Sunday, August 28, 2011

Jogja Freak!




4 hari perjalanan kami di Jogja bagi saya adalah perjalanan yang superb. Saya percaya setiap perjalanan punya ke-superb-an masing-masing, namun kali ini ke-freak-an teman-teman seperjalanan saya sungguh tak tertandingi. Saya saja sampai susah dibuatnya. Maksudnya, susah kalau tidak ikutan freak :))).

Oke, mulai lebih serius.
Jelas-jelas saya jatuh cinta terhadap kota ini dan menaruh respek tinggi untuk semua yang ada di dalamnya.
Walau ini bukan kunjungan pertama saya ke Jogja, tapi secara personal, baru kali inilah saya benar-benar secara serius mencoba untuk mengenal Jogja lebih dalam.

Saya banyak menemukan tempat-tempat menarik di Jogja, sampai-sampai kagum dibuatnya, apalagi tentang kehidupan Keraton dan kesetiaan abdi dalem. Pun terpukau dengan sejarah yang pernah menyentuh Jogja dan sekitarnya, dengan kebudayaan yang dimiliki, terlebih ketika menyaksikan sendratari Ramayana berlatar belakang Candi Prambanan. Ah, keren, sampai mau nangis rasanya...

Saya sangat menghargai karakter orang lokal yang tenang, sopan, bersahabat dan senang menolong, ya tak terkecuali para tukang becak, walaupun terkadang sering gigih banget nawarin untuk keliling dagadu dan bakpia sekitar. Bagaimanapun, sangat nyaman rasanya tidak perlu dengar teriakan-teriakan tak penting, apalagi bunyi klakson berlebihan di jalanan. Itulah Yogyakarta.

Bersyukur karena trip saya ke Jogja kali ini bisa dikatakan lengkap, saya sih puas. Maksudnya, dalam waktu hanya 4 hari, dengan tujuan awal hanya untuk menyaksikan pertunjukkan Sendratari, ternyata berujung dengan eksplorasi tinggi. Rasanya tak rela saja kalau daerah semenarik ini tidak dijelajahi. Kami sempat melihat keindahan pantai-pantai di Gunung Kidul, mengunjungi candi Borobudur dan Prambanan, Keliling Kota Jogja, Keraton, Alun-Alun dan beberapa museum penting, ke Kaliurang, puncaknya Jogja, dan yang paling menarik bagi saya, adalah kami sempat mampir ke Merapi, Sleman, menginjakkan kaki di tanah vulkanik yang telah menimbun beberapa desa. Maaf, kali itu, di tempat itu, semua tidak ada yang bisa bertingkah freak, semuanya tenang, merasakan makna prihatin, termasuk saya. Apalagi, salah satu rumah yang atapnya 'nyembul' dari tanah itu adalah rumah milik supir kami. Tak tahu mau bilang apa ketika menginjakkan kaki di tanah Merapi, tapi mendengar curhatan dari sang supir, di situlah saya melihat kepasrahan berlapis ketegaran. Saya sih yakin, mereka akan mampu berdiri tegap kembali, mereka akan pulih lagi. Untuk orang-orang sebaik ini, akan selalu ada solusi.

Yes, yes.. tak ada kata yang lebih tepat untuk menggambarkan Yogyakarta, selain kata "Istimewa". Yogyakarta memang benar-benar istimewa. Makanya, benar-benar tak salah kalau dinamakan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

2 comments:

  1. waaahhh seru kaaa... ntar tgl 6 aku rencana ke jogja juga hehhe kaa, apa nih ka rekomendasi tempat & makanan dr kaka?? supaya aku ga kelewatan ntar.. hahaha

    ReplyDelete
  2. Wah! berapa hari kamu di Jogja??
    kalau mau, nanti aku imelin aja itinerary ku :D
    kasih imelmu aja. enjoy Jogja!

    ReplyDelete