Yoa, sudah terhitung cukup lama kevakuman gue dalam hal perdiarian. Dulu gue rajin banget nulis kejadian setiap hari, bahkan sempet ada masanya gue nulis diari pake bahasa Belanda. Dem, kurang gaul apa coba? ya well... itu dulu... Dulunya itu kapan ya? haha... Tapi ya anyway, kesibukan dan ke-soksibukan memang menyebabkan gangguan pada rutinias menulis. Alasan.
Gue tak memungkiri bahwa menulis diari itu kaya akan manfaat dan sari. Oke, let's replace the word "diary" with "journal", abis kayaknya kata diari terlalu manis manja dan so sweet dan so young dan so unyu sehingga bikin orang males nulis. Kata jurnal lebih keren B). Ya, seperti saat ini gue sedang mencoba menulis tentang hari ini di jurnal gue [lagi], membuat gue flash back. Melakukan review dan mengulang rekaman sepanjang hari. Lalu mencoba menemukan nilai yang oye untuk diangkat dan diceritakan buat gue sendiri. Gue jadi pemain, sekaligus jadi penonton.
Cool gak sih? Artinya, kalau setiap hari gue menulis jurnal pribadi, akan selalu ada nilai yang gue temukan dari hari yang dilewati.
Efeknya, gue menjadi semakin apresiatif terhadap hidup, menyadari bahwa hidup penuh dengan isi, dan kesadaran akan keberadaan orang-orang baik di sekeliling gue. Ahk, efeknya enak...





















